Test MIR
Test Multiple Intelligence Research (MIR) sekarang sudah banyak diterapkan oleh sekolah-sekolah swasta. Pengalaman pertama ikut test MIR, waktu putri bungsuku, Naila, daftar di TK Mamba'ul Ula, di Jl. Dewi Sartika Jakarta Timur. Wah, awalnya kaget juga, masuk TK pake test segala macem.... Tapi ternyata setelah dikasih penjelasan sama kepala sekolahnya, ternyata test itu buat pengenalan guru terhadap karakter anak dan untuk memudahkan dalam menyusun strategi pembelajaran. Test ini juga bukan untuk seleksi masuk, karena semua anak yang mendaftar di TK ini pasti diterima selama kelas masih belum penuh. Saluuut deh..... :)
Pada dasarnya, semua anak terlahir sebagai manusia cerdas, punya potensi dan kelebihan masing-masing. Hanya saja, sistem pendidikan di Indonesia masih kolot, kalo nilai akademiknya rendah, anak itu langsung dicap sebagai anak yang bodoh.
Padahal, bisa jadi kelak di kemudian hari, anak tersebut justru bisa lebih sukses hidupnya dibandingkan dengan anak yang nilainya tinggi. Entah itu unggul dalam hal menulis, melukis, lobi/nego, menciptakan games edukatif (karena suka main game online), atau bahkan jadi pengusaha top.
Ini pengalaman pas Naila ikut test MIR kemarin. Naila masuk ke sebuah ruangan sendiri. Dia cerita, bu guru tanya macem-macem :
Naila suka nyanyi ngga?
Kalo dirumah Naila ngapain aja?
Bisa nggambar bunga ngga?
Coba buat ular dari plastisin...
Kalo diajak pergi, Naila sukanya diajak kemana?
Temen-temen Naila dirumah siapa aja?
dan bla...bla...bla.... banyak lagi deh...
Naaah, setelah Naila keluar ruangan, gantian orang tuanya dikroscek. Pertanyaannya kurang lebih sama kayak pertanyaan diatas. Kira-kira 2 minggu kemudian, tadaaaaa..... keluarlah hasil test-nya...
Kecerdasan Naila paling tinggi poinnya ada di kecerdasan Intrapersonal (cerdas diri), Kinestetis (cerdas gerak), Interpersonal (cerdas bergaul), Linguistik (cerdas bahasa), Matematis - Logis (cerdas angka dan logika), Spasial - Visual (cerdas gambar dan ruang), Musik dan terakhir Naturalis (cerdas alam).
Sedangkan kecenderungan gaya belajar Naila lebih suka belajar sendiri (Intrapersonal). Selama ini kalo diajarin huruf atau angka, kayaknya koq agak susah, ternyata metode pengajarannya salah. Akhirnya, coba metode belajar pake mainan laptop-laptopan, kalo dipencet hurufnya, laptopannya bisa bunyi.. Alhasil, ngga sampe seminggu sudah hafal huruf dan angka, bahkan sudah bisa mengeja. Kelemahan Naila ada di Naturalis (cerdas alam). Dia paling ngga telaten ngurus binatang peliharaan (si Kimchi kelinci) sama disuruh bantu nanem bunga. Kalo toh Naila mau, hanya sekedarnya aja... :(
Dari test MIR ini, kita sebagai orang tua sebenernya bisa tau gimana model belajar anak-anak kita. Ada yang belajar sambil nonton TV, belajar sambil ngobrol sama temennya, belajar sambil denger musik yang kenceng. Jadi, belajar itu ngga melulu duduk, ngadepin buku, ngapalin dalam suasana sepi... meskipun ada juga anak yang begitu. Dzaky (abangnya Naila) bisa belajarnya kalo pas suasana sepi, terus ngapal deh....
Ok, deh.... mudah-mudahan dari sedikit cerita Naila ini, bisa menggugah kesadaran para orang tua (khususnya diriku :) ) bahwa semua anak kita memiliki kecerdasan masing-masing. Tinggal bagaimana cara kita menggali potensi yang sudah ada untuk bisa lebih dikembangkan.

1 comments:
anakku kemaren habis tes MIR, mau masuk TK. oo jadi tujuannya ini to mbak.. baiklah, saya tinggal nunggu hasilnya ini..
Post a Comment